Wednesday, December 16, 2015

Surat Yusuf kepada Francis Light (MS40320/3 folio 67) berkenaan kes perbicaraan harta

Al-Shams wa al-Qamar

Bahawa ini menyatakan kirim tabik daripada Yusuf, disampaikan Tuhan kita Hannan al-Mannan apalah kiranya kepada pihak majlis Dato’ Gurnador yang bertahta dalam daerah bandar Pulau Pinang, ialah yang sangat bijaksana, barang suatu ahwalnya dangan segala sahabat handainya karib dan ba’id dan ialah yang sangat mengasihani segala fakir dan miskin. Maka masyhurlah pada segala tanah timur dan barat akan warta yang baik, barang ditambahi Allah kebesarannya serta perkasa pada segala seterunya dengan tolong Tuhan Wahid al-Qahhar, amin ya Rab al-‘alamin wa ba’dah.

Kemudian daripada itu, maka adalah Yusuf maklumkan kepada Dato’ Gurnador daripada hal Nakhoda La Selu memberi surat pada Yusuf mengatakan hal bicaranya dengan To` Mangga belum lagi selesai kedua perkaranya. Dato’ Gurnador menghendak tandatangan saya, pada musim inilah ia akan kedua nakhoda ke Pulau Pinang akan mengadap Dato’. Maka saya pun sangatlah berbesar hati akan mengadap Dato’. Maka dengan takdir Allah maka kenalah saya sakit, itulah adanya. 

Syahdan maka adalah Yusuf minta maaf banyak kepada Dato’ daripada hal To’ Mangga itu. Mula pertamanya dia disuruh Nakhoda Selu menghantarkan harta saya dari Bugis ke Riau beserta dengan orangan Nakhoda Selu seorang, Laja Niak namanya, disampaikan Allah ia ke Riau. Maka tiadalah ia datang kepada saya. 

Kemudian maka datang Nakhoda Sampurang dari Bugis. Maka saya pergi pada nakhoda itu, saya bertanyakan khabar Nakhoda Selu. Maka kata Nakhoda Sampurang, La Selu tiada ia datang pada tahun ini karena ia kena bicara. Akan hal modal mari itu sudah dikirimkannya pada To’ Mangga serta orangan yang membawakan dagangan itu, Laja Niak namanya, dua bulan dahulu ia berlayar daripada kami ini. 

Barangkali ia singgah di Banjar membeli lada, dalam pada berkata2 itu, maka datang Panajiwa. Maka Sampurang pun bertanya pada Panajiwa akan khabar To’ Mangga. Maka kata Panajiwa sudah ia sampai lebih setengah bulan lamanya dari Banjar, memuat lada perahunya di sungai Kalang, dekat rumah Syahbandar Hasan, hendak ia menaikkan ladanya karena perahunya buncur. 

Maka kata Nakhoda Sampurang pada saya Encik Yusof, tidakkah mengenal To’ Mangga. Kata saya, tidak saya mengenal dia. Maka kata Sampurang, nanti akulah membawak dia kepadamu, itulah adanya. Kemudian daripada itu ada selang dua tiga hari, maka datanglah Nakhoda Sampurang membawak To’ Mangga dan Laja Niak pada saya. Kemudian kata saya, nakhoda apa ada dibawak yang lain daripada lada, akan kata To’ Mangga, tidak ada lain daripada lada, kain yang kami bawak dari Bugis habis di Banjar. Kata saya bagaimana dagangan La Selu. Katanya bercampur semua modal kami dalamnya. Kata saya, nakhoda lada itu jika tengah delapan rial jangan dijual pada orang lain, itulah adanya. 

Syahdan antara berapa lamanya saya dengar sudah ia menjual lada, maka saya mintalah harta itu. Maka kata To’ Mangga, biarlah habis sekali, baru saya bayar harta itu. Ini akan hal Laja Niak sudah jahat akalnya siang malam ia berjalan saja. Maka jawab saya, jangan engkau berikan harta itu kepada Laja Niak. Maka kata To’ Mangga meski sekipang pitis tidak aku beri, begitulah adanya. Kemudian antara dua tiga hari saya suruh tunggu. Maka ia datang To’ Mangga pada saya, katanya To’ Mangga pada saya, adakah Laja Niak membayar pada Um karena aku beri rial dua ratus, aku suruh antarkan. Maka kata saya, bagaimana To’ Mangga begitu engkau mengata Laja Niak jahat, engkau berikan juga rial kepadanya itu aku tidak tahu pada Laja Niak. Maka disuruhnyalah cari Laja Niak. 

Maka datanglah Laja Niak membawak rial delapan puluh rial. Maka kata To’ Mangga yang lagi mana kata Laja Niak ada di kampung pada orang Cina. Maka kata saya, berapakah sudah engkau beri Laja Niak ini rial. Katanya baru dua ratus. Inilah sebab ku suruh membawak kepada mim. Maka kata saya yang lagi pada siapa kata To’ Mangga pada saya. Maka kata saya, baiklah antarkan ke mari karena negeri kita susah. Maka kata To’ Mangga marilah kita pegi kampung Cina dahulu tolong selesaikan yang kepada Cina itu. Maka saya pun pegilah. 

Maka saya terimalah beras dan gula dan kadut kira2 seratus dua puluh rial. Maka saya pun pulanglah ke rumah, To’ Mangga pun pulanglah ke perahunya, itulah adanya. Setelah esok maka segala raja2 dan tuan dan orang banyak pun ilir ke Pulau Bayan, berbicarakan kapal dari Melaka hendak mengambil kapal Kapitan Kidis. Saya pun ilir, saya lihat perahu To’ Mangga sudah tidak ada. Kemudian sampai di Pulau Bayan, saya tanya Dayang Maqdik akan To’ Mangga. Kata Dayang, To’ Mangga sudah berlayar malam tadi, sudah katanya dia (kata?) sudah selesai. Maka kata Dayang, larilah To’ Mangga itu. Kemudian maka saya beri surat ke Bugis kepada Nakhoda Selu, hal To’ Mangga lari daripada bicara, pada tahun lain datang Nakhoda Selu kirim akan berbicara To’ Mangga tiada datang, itulah adanya. 

Kemudian lagi sampai To’ Mangga di Lingga. Saya suruh pergi periksa pada Dayang Maqdik dan Dayang Tujing akan hal harta saya itu. Katanya, sudah aku selesai di Bugis dengan La Selu. Kemudian datang Nakhoda Selu ke Lingga, saya tanya Nakhoda Selu, katanya belum berjumpa dengan To’ Mangga selama2 ini, ini aku dengar khabarnya To’ Mangga hendak ke Pulau Pinang. Di sanalah aku bicarakan. Kemudian datang surat Nakhoda Selu kepada saya, mintak saya beri surat kepada Dato’. Dahulu Allah, kemudian segala nabi, Dato’lah saya mintak tolong ketetapan harta saya itu. Ini beberapa tahun sudah tidak ada tentunya, seboleh2 haraplah saya akan tolong. Jikalau hilang pun, hilanglah, asal sudah tentu. Suatu pun tiada tanda ikhlas, candan satu potong.

Tamat.

No comments:

Post a Comment